Benak Bangsa - Jakarta, 12 Mei 2025 — Di tengah tantangan ekonomi global yang penuh
ketidakpastian, Indonesia terus menunjukkan komitmennya untuk memperkuat sektor
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian
nasional. Salah satu strategi utama yang saat ini dijalankan pemerintah adalah
mendorong UMKM agar mampu menembus pasar ekspor, mengingat potensi besar produk
lokal Indonesia yang belum sepenuhnya tergarap di kancah internasional. UMKM
menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan
menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Namun, kontribusi UMKM terhadap
ekspor nasional masih relatif kecil, yakni sekitar 15 persen. Melihat potensi
yang belum tergarap ini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan, Kementerian
Koperasi dan UKM, serta lembaga terkait lainnya menggulirkan berbagai inisiatif
untuk mendukung UMKM go global. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menegaskan
bahwa pemerintah akan terus memberikan pendampingan dan akses pasar
internasional bagi UMKM yang memiliki kualitas produk ekspor. “Kita memiliki
banyak produk lokal yang sebenarnya sangat diminati di luar negeri, seperti
makanan olahan, kopi, teh, produk kerajinan, dan fesyen muslim. Yang perlu kita
lakukan adalah memberikan pelatihan, sertifikasi, dan akses pasar,” ujarnya
dalam forum perdagangan di Jakarta, Senin (12/5). Salah satu program andalan
pemerintah adalah Export Coaching Program (ECP), yang telah berhasil membina
ratusan pelaku UMKM di berbagai daerah. Program ini mencakup pelatihan ekspor,
pengenalan pasar luar negeri, hingga pendampingan dalam proses logistik dan
kepabeanan. Selain itu, pemerintah juga aktif memfasilitasi UMKM untuk mengikuti
pameran dagang internasional dan memperluas promosi digital melalui platform
e-commerce global. Cerita sukses pun mulai bermunculan dari berbagai daerah.
Siti Aminah, pelaku UMKM asal Pekalongan, Jawa Tengah, mengaku usahanya
mengalami lonjakan permintaan setelah mendapatkan pelatihan ekspor dari
pemerintah. “Awalnya kami hanya memasarkan batik ke pasar lokal, tetapi setelah
mengikuti program pelatihan dan dibantu promosi secara online, kini kami rutin
mengirim produk ke Australia dan Singapura,” ujarnya. Di sisi lain, digitalisasi
juga menjadi faktor kunci dalam mendorong ekspor UMKM. Platform seperti
Tokopedia, Bukalapak, hingga Shopee telah bekerja sama dengan kementerian untuk
menghadirkan fitur ekspor digital, memungkinkan pelaku usaha kecil menjangkau
konsumen luar negeri dengan lebih mudah. Bahkan, beberapa startup lokal kini
hadir sebagai agregator ekspor UMKM, menawarkan layanan mulai dari pengemasan
hingga pengiriman lintas negara. Namun, tantangan tetap ada. Banyak UMKM masih
terkendala dalam hal kualitas produk, standar internasional, serta keterbatasan
modal dan kapasitas produksi. Untuk itu, pemerintah bekerja sama dengan
perbankan dan lembaga keuangan untuk memberikan akses pembiayaan ekspor melalui
skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus ekspor, dengan bunga rendah dan jaminan
ringan. Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Kartika, menyambut
baik upaya ini. Menurutnya, UMKM Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh
di pasar global jika diberikan dukungan menyeluruh. “Yang paling penting adalah
kesinambungan program dan integrasi antar-lembaga. Jangan hanya berhenti di
pelatihan, tetapi terus didampingi sampai UMKM benar-benar mampu ekspor secara
mandiri,” ujarnya. Ke depan, Indonesia menargetkan kontribusi ekspor UMKM
meningkat hingga 25 persen pada tahun 2030. Dengan sinergi antara pemerintah,
swasta, dan pelaku usaha, mimpi menjadikan UMKM Indonesia sebagai pemain utama
di pasar global bukanlah hal yang mustahil.
Benak Bangsa - Cerita Pendek - Namanya Bentala. Seorang pria berusia 32 tahun yang dikenal pekerja keras, ramah, dan selalu bisa membuat orang lain tertawa. Di tempat kerjanya sebagai staf logistik di sebuah perusahaan manufaktur, Bentala menjadi teman yang disukai banyak orang. Tapi tak banyak yang tahu, di balik senyumnya yang hangat, tersembunyi luka lama yang belum sembuh—luka karena keluarganya sendiri. Bentala lahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang pegawai negeri, sedangkan ibunya ibu rumah tangga. Sejak kecil, Bentala tahu bahwa keluarganya tidaklah harmonis. Ayahnya sering pulang malam dalam keadaan mabuk, dan tak jarang suara teriakan serta tangisan ibunya terdengar dari balik kamar. Bentala kecil belajar menjadi dewasa lebih cepat dari anak-anak lain. Ia menenangkan adik-adiknya, membuatkan mereka makan, dan menghibur mereka saat ketakutan. Ketika Bentala berusia 15 tahun, ayahnya meninggalkan rumah. Begitu saja. Tanpa penjelasan. Ibunya jatuh sak...

Komentar
Posting Komentar